November 26, 2008

BERANI GAGAL

***Berani Gagal***
~~~~~****~~~ ~~****~~~ ~~

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini
kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi
memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya.
Gagal total itulah awal karier bisnis saya.

Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola
kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan
kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal
meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam
mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian
mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang
belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar
Primagama.

Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun.
Dari awalnya yang sangat sepi peminat - hanya 2 orang
- sampai akhirnya peminatnya membludak hingga
Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan
menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di
Indonesia.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah
sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar.
Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu
kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita
tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata
masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada
melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang
yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui
kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan
memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar
anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda
gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap
juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling
Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan
moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada
orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan
sementara. Jangan berharap bank akan memberikan
pinjaman selanjutnya.

Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk
bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah
masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan
menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal.
Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan
memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang
yang kedua.

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka
tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya.
Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita
harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang
kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri
lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman
negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru
agar bisa meraih kesuksesan kembali.

Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia
kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah.
Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis,
seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap
manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan
mungkin penderitaan.

Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai
terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita
harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja
hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja
kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita,
membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan
kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih
mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan
kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani
ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga
sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka
Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting
bagi karier siapapun.

Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang
membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan
sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita
seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan
hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan
kesuksesan di penghujung kegagalan.

Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri.
Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita
terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering
terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat
sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu
"melankolis" dan suka memvonis diri terlebih dahulu,
bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat,
kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau
tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali
suatu usaha.

Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan
membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita
mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan
menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh
kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran
semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai
sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa
depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur
seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia
jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.

Tidak ada komentar: