November 26, 2008

MELAYANI

***Meraih Sukses Dengan Melayani***

“Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua
orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah
perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak
perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani.
Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas
kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.” - Martin
Luther King -

Ketika selesai melakukan transaksi di sebuah Bank
Swasta, teller dengan senyumnya yang ramah meminta
saya memilih salah satu dari dua kertas kecil yang
beda warna dan memasukannya ke dalam kotak, sebagai
penilaian kinerja pelayanannya. Rupanya Bank yang
memiliki jutaan nasabah pemegang ATM ini secara sadar
berorientasi untuk mencetak karyawan yang memiliki
orientasi pada “customer focus” dalam kinerjanya.

Demikian juga ketika memasuki bangking hall sebuah
bank swasta lainnya, saya menjumpai personil dengan
sikap yang seragam, dari satpam yang mulai membukakan
pintu, petugas customer service, teller sampai ke
manager cabangnya. Rupanya Bank ini secara sadar juga
berorientasi mencetak karyawan untuk
menginternalisasika n dan saling menularkan nilai-nilai
pelayanan dan integritas yang diekspresikan dalam
tindakan nyata.

Derap persaingan yang semakin komplek, apalagi dalam
dunia bisnis yang sangat kompetitif, semakin menuntut
adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan.
Organisasi dan perusahaan tidak mengizinkan lagi
seorang karyawan tidak memberikan pelayanan dengan
baik. Setiap karyawan merupakan bagian dari keunggulan
organisasi perusahaan, sehingga harus berorientasi
pada “customer focus” untuk memberikan kepuasaan
pelanggan.

Perhatikan pada setiap perusahaan besar, apa kunci
prestasi mereka sehingga perusahaan mereka bisa
bertahan ? Apa kunci keberhasilan mereka untuk dapat
terus bertumbuh menjadi besar ?.

Anda akan menemukan salah satu kunci terpenting adalah
pelayanan kepada pelanggannya. Maka banyak perusahaan
mengangkat tema “kepuasan pelanggan” menjadi bagian
penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Perusahaan
yang senantiasa mau mendengarkan dan memenuhi
kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen niscaya akan
lebih mudah dalam meraih dan mempertahankan
kesuksesannya.

Paradigma melayani sebenarnya bukanlah sesuatu yang
baru, karena sudah sejak dulu para guru spiritual
selalu mengajarkan akan hal ini. Yang menjadi
pertanyaan sekarang adalah bagaimana agar kita juga
bisa memiliki hati yang mau melayani?

1. Memandang pekerjaan adalah ibadah

Jadikanlah setiap apa yang kita kerjakan dalam
kehidupan hanyalah berorientasi untuk pengabdian kita
kepada Allah dan pelayanan kepada orang lain.
Kesadaran ini, dapat menjadikan pekerjaan adalah
bagian dari ibadah yang harus dipertanggungjawabk an
kepada Allah dan kepada orang lain.

Kita dapat memberikan keikhlasan hati untuk senantiasa
melayani orang lain dengan baik. Apakah itu pelanggan
kita, apakah itu teman-teman kita, apakah itu bos dan
pemimpin kita. Dengan demikian orang lain akan
memberikan apresiasi terhadap apa yang kita lakukan.
Kalau hal ini dijadikan sebagai kedisiplinan, inilah
modal bagi kesuksesan kita.

2. Kehidupan adalah kesempatan membantu orang lain.

Motivator kelas dunia, Zig Ziglar pernah berkata,
“Anda bisa memperoleh apa pun dalam kehidupan ini
sepanjang Anda juga mau menolong orang lain memperoleh
apa yang mereka inginkan.” Inilah sebuah prinsip bahwa
memperoleh apa yang kita inginkan dapat dimulai dengan
membantu orang lain memperoleh keinginannya.

Setiap orang mengemban amanah yang secara tegas
disebutkan oleh Allah dalam kitab suci, sebagai wakil
Allah dimuka bumi ini. Manusia memiliki kewenangan
sebagai “khalifah” penguasa kehidupan di muka bumi.
Dengan demikian kehadiran setiap manusia adalah untuk
mensejahterakan kehidupan orang lain dan alam semesta
ini, bukan menghancurkan orang lain dan alam semesta
untuk kepentingannya sendiri. Gunakan kehidupan yang
kita miliki sebagai kesempatan berharga untuk membantu
banyak orang lain, memberikan manfaat bagi orang lain.

3. Siapa Menabur Dialah Yang Akan Menuai

Pepatah bijak mengatakan siapa yang menabur dialah
yang akan menuainya. Saya sangat sepaham, bahwa apa
yang kita tabur akan kita tuai. Kalau kita menaburkan
benih-benih kebaikan, maka kita akan memanen hasil
kebaikan. Kalau kita menebarkan pelayanan, maka kita
akan menuai kemudahan-kemudahan dalam kehidupan.
Begitupun sebaliknya.

Sayangnya, banyak orang sering kurang menyadari hal
ini. Rejeki yang kita peroleh sesungguhnya melalui
orang lain, maka sebaiknya sebagian dibagikan bagi
orang lain. Kalau kita sebagai karyawan, maka
sesungguhnya gaji yang kita peroleh itu berasal dari
pelanggan, bukan dari sang pemilik atau pemimpin
perusahaan. Sebagai pengusaha, sesungguhnya keuntungan
yang kita peroleh asalnya dari sang pelanggan. Maka
penting memiliki kesadaran untuk memberikan pelayanan
kepada pelanggan secara baik dan memuaskan. Perusahaan
akan menuai keuntungannya yang akhirnya dapat
menghidupi pengusaha dan karyawannya.

Kehidupan ibarat ladang pertanian yang subur. Setiap
benih yang kita sebarkan akan tumbuh dan memberikan
hasil. Kalau benih kebaikan dan pelayanan yang kita
taburkan, maka akan memberikan hasil kebaikan dan
kemudahan bagi kita.

Tidak ada komentar: